Disusun oleh Dewi Meita Sari

BAB V

PEMBAHASAN

 

            Pada percobaan kali ini yaitu Penentuan komposisi Magnesium Hidroksida dan Almunium Hidroksida dalam obat maag bertujuan untuk menentukan kadar basa (OH) dalam sampel obat maag. Pada percobaan ini digunakan dua sampel obat maag yaitu Obat Maag ‘Mylanta’ dan ‘Polysilene’.

Maag adalah gejala penyakit yang menyerang kambung yang disebabkan karena meningkatnya asam dalam lambung. Oleh karena itu metode pengobatan pada penyakit ini adalah dengan menetralisir asam tersebut dengan zat yang bersifat basa. Karena itu Obat Maag selalu mengandung Magensium Hidroksida dan Alumunium Hidroksida. Tetapi dalam percobaan kali ini yang ditentukan hanya kadar basanya saja.

Penentuan kadar basa dalam sampel obat maag ini ditentukan dengan metode titrasi asam-basa. Sejumlah sampel dilarutkan dengan aquades kedalam labu ukur hingga tanda batas. Kemudian larutan tersebut dipipet dan ditambahkan 10 mL HCl dan 3 tetes indikator phenolptalein. Setelah itu dititrasi dengan NaOH 0.1N hingga terjadi perubahan warna dari bening menjadi merah sangat muda.

Pada percobaan ini dilakukan pula titrasi blanko terhadap HCl untuk mengetahui jumlah Basa yang terdapat dalam sampel. Karena sejumlah sampel direaksikan terlebih dahulu dengan sampel setelah itu kelebihan HCl yang tidak bereaksi dengan sampel dititrasi dengan NaOH. Jadi untuk menghitung jumlah basa yang terkandung dalam sampel adalah volume blanko – volume titran sampel.

Dari percobaan ini didapat konsentrasi basa yang sangat kecil yaitu 1.6799 x 10-3 untuk sampel ‘Mylanta’ dan 1.1470 x 10-3 untuk sampel ‘Polysilene’. Dengan demikian dapat dilihat bahwa kandungan basa sampel ‘Mylanta’ lebih besar dari sampel ‘Polysilene’.

 

 

 

BAB VI

KESIMPULAN

 

Dari percobaan diatas didapatkan kadar OH dalam sampel ‘Mylanta’ adalah sebesar 1.6799 x 10-3. Sedangkan pada sampel ‘Polysilene’ didapat kadar Basa atau OH sebesar 1.1470 x 10-3.

 

JAWABAN PERTANYAAN

 

  1. Titik ekivalen adalah suatu keadaan dalam proses titrasi pada saat jumlah ekivalen penitrasi sama dengan ekivalen zat yang dititrasi. Atau suatu keadaan dimana zat yang dititrasi sudah habis bereaksi dengan penitrasi.

Titik Akhir titrasi adalah suatu keadaan dimana indikator berubah warna sehingga titrasi dihentikan.

 

  1. Berikut adalah beberapa Indikator asam basa yang sering digunakan beserta trayek pH-nya.

Indikator

Trayek pH

Warna (asam)

Warna (basa)

Biru bromo fenol

3.0 – 4.6

Kuning

Biru

Metil Jingga

3.2 – 4.4

Merah

Jingga

Metil Merah

4.2 – 6.3

Merah

Kuning

Biru Bromotimol

6.0 – 7.6

Kuning

Biru

Fenol Merah

6.8 – 8.4

Kuning

Merah

Biru Timol

8.0 – 9.6

Kuning

Biru

Fenolftalein

8.3 – 10.0

Tidak Berwarna

Merah

 

  1. Larutan baku primer adalah larutan baku yang konsentrasinya ditentukan dengan cara menghitung dari berat zat yang dilarutkan dan volume larutan yang dibuat.

Larutan baku sekunder adalah larutan baku yang konsentrasinya harus ditentukan dengan cara titrasi terhadap larutan baku primer.

  1. Reaksi yang terlibat :

Mg(OH)2 + HCl à MgCl2 + H2O + HCl sisa

HCl sisa + NaOH à NaCl + H2O

 

BAB VII

DAFTAR PUSTAKA

 

©      Day, JR dan Underwood. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta

©      Harjadi, W. 1993. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Erlangga. Jakarta.

©      Keenan, C. W, dkk. 1998. Kimia untuk Universitas. Jakarta: Erlangga.

©      Khopkar. 2002. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI Press. Jakarta.

©      Vogel, A.I. 1994. Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik Edisi 4. EGC. Jakarta

 

NB: Please take out with full credit and use it properly

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s